Dampak Covid-19, Sangat Berpengaruh Bagi Kesehatan Masyarakat

Dampak Covid-19, Sangat Berpengaruh Bagi Kesehatan Masyarakat

Dampak Covid-19, Sangat Berpengaruh Bagi Kesehatan Masyarakat

Rabu, 25 Maret 2020, - Penelitian terhadap 138 pasien yang terinfeksi virus corona di Wuhan, yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association (JAMA) pada 7 Februari, menunjukkan gejala yang paling umum adalah demam, kelelahan, dan batuk kering. Sepertiga dari pasien juga melaporkan nyeri otot dan kesulitan bernafas, sementara sekitar 10 persen memiliki gejala atipikal, termasuk diare dan mual. Sementara sebagian besar kasus tampak ringan, semua pasien mengalami pneumonia.

Sekitar sepertiga pasien mengalami kesulitan bernapas yang parah, membutuhkan perawatan di unit perawatan intensif. Orang yang sakit kritis biasanya berusia lebih tua dan memiliki penyakit diabetes dan hipertensi.

“Usia rata-rata pasien adalah antara 49 dan 56 tahun," kata JAMA.

Sementara itu, sebuah penelitian yang diterbitkan pada 24 Januari di The Lancet, sebuah jurnal medis menemukan apa yang disebutnya "badai sitokin" pada pasien yang terinfeksi yang sakit parah. Kondisi ini merupakan reaksi kekebalan yang parah di mana tubuh memproduksi sel-sel kekebalan dan protein yang dapat menghancurkan organ-organ lain yang dapat menyebabkan kematian. 

Hingga saat ini yang terkonfirmasi meninggal di negara Indonesia sebanyak 55 orang dan akan selalu bertambah jika penanganannya tidak ditindaklanjuti dengan serius untuk membangun infrastruktur Kesehatan. 
Yang pada akhirnya ini telah meresahkan masyarakat Indonesia hingga bapak presiden Joko Widodo menginstruksikan untuk social distanding yang mana bekerja di rumah, belajar di rumah, dan, ibadah di rumah. 

Dampak dari instruksi tersebut pasti sangat berpangaruh pada kehidupan social masyarakat Indonesia. Tapi hingga kini masyarakat masih juga ‘ngeyel’ kesana kemari dan tidak menganggap angka 686 terkonfirmasi positif dengan tingkat kesembuhan hanya sekitar 4,3% atau 30 orang saja.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa Infrastruktur kesehatan yang ada saat ini masih jauh dari kata cukup untuk penanggulangan virus corona tersebut, Mulai dari Rumah Sakit Rujukan hingga Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga Kesehatan yang bekerja di garda terdepan masih sangat minim. 

Menjadi pertanyaan, kenapa bisa seperti APD sulit untuk diadakan? ini sungguh berbahaya bagi tenaga Kesehatan, terkhusus para dokter yang bekerja di rumah sakit rujukan pasien dengan penyakit korona ini. 

Tidak dipungkiri lagi hingga detik ini ada beberapa nyawa dokter dan perawat Indonesia yang harus melayang karena melawan virus ini. Dan jika kondisi ini tetap berlanjut, entah harus berapa nyawa lagi tenaga Kesehatan yang dikorbankan untuk melawan virus korona jika Minimnya APD yang dimiliki.

Dari informasi, sesuai data pasien yang terkena virus korona yang menyebabkan masyarakat sekitar yang berada didaerah pasien 01 dan 02 tidak melakukan jaga jarak dengan si penderita, kemudian persoalan obat-obatan yang di rekomendasikan tidak mengacu pada hasil penellitian ataupun Riwayat penggunaan. 

Contohnya penggunaan obat ibuprofen kepada pasien terinfeksi virus korona justru malah memperparah keadaan si pasien, dan masih banyak lagi.
Masyarakat Indonesia khususnya tenaga medis, sangat berharap pemerintah bisa lebih fokus mempertimbangkan kebutuhan saat ini seperti alat pelindung diri (APD), alat tes yang lebih banyak, dan infrastruktur yang memadai.

Penulis : Arditya Noor
Mahasiswa UHO Prodi Kesmas
 

Komentar

Belum ada komentar

Komentar Anda