Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bombana turut serta dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) secara Virtual di Aula rapat Kantor Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bombana.
Pj. Gubernur Sulawesi Tenggara, Komjen Pol. (P) Dr (H.C) Andap Budhi Revianto, S.I.K., M.H., secara resmi membuka Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak secara nasional yang dilaksanakan di 17 kabupaten/kota se-Sulawesi Tenggara, dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-44 Tahun 2024, Rabu (16/10/2024). Kegiatan tersebut berlangsung di Pelataran Kantor Camat Poasia, Kota Kendari.

Hari Pangan Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 16 Oktober. Tanggal ini diambil sebagai pengingat akan komitmen dunia untuk mengatasi masalah kelaparan dan malnutrisi. Pada tahun ini, tema yang diusung adalah "Pangan untuk Semua: Membangun Ketahanan Pangan di Era Baru." Tema ini sangat relevan, terutama mengingat tantangan yang kita hadapi saat ini semakin berat. Hari pangan Sedunia adalah momen penting bagi kita untuk memikirkan ketahanan pangan dan aksebilitas pangan bagi seluruh lapisan masyarakat. Ditengah tantangan yang kita hadapi seperti perubahan iklim, pandemi global, dan ketidakpastian ekonomi, maka kita perlu bersatu untuk memastikan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pangan yang cukup, bergizi dan terjangkau (wajar).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Tenggara, Ari Sismanto, selaku Ketua Panitia menyampaikan dalam laporannya hingga saat ini, GPM di Provinsi Sulawesi Tenggara telah dilaksanakan sebanyak 267 kali, termasuk di 17 kabupaten/kota. Selain itu, kios-kios pangan yang didirikan di sembilan kabupaten/kota berperan sebagai penyeimbang harga, sehingga saat harga komoditas naik di pasar, kios pangan ini dapat menjual dengan harga yang lebih rendah.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya bersama dalam mencapai ketahanan pangan nasional yang lebih kuat. Peringatan Hari Pangan Sedunia yang diresmikan oleh Penjabat Gubernur Sulawesi Tenggara ini tidak hanya menjadi ajang untuk refleksi, tetapi juga untuk memperkuat komitmen dalam menjaga keberlanjutan pangan untuk generasi mendatang. (Febry)







